Fakta Mengejutkan Mengenai Krisis Air Bersih


Tak banyak yang tahu bahwa tanggal 22 Maret setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Air Sedunia. Dengan ini artinya keberadaan air bersih menjadi hal yang sangat penting bagi seluruh masyarakat dunia. Memang tak diragukan lagi bahwa air tawar sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia.

Walaupun begitu, masih banyak yang lupa bahwa air bersih merupakan sumberdaya yang terbatas (scarcity). Perubahan lingkungan, rusaknya daerah aliran sungai (DAS), pencemaran air dan limbah, serta tak adanya akses ke sumber air bersih menjadi masalah yang mungkin akan kita hadapi di masa mendatang. 

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, kali ini kami telah mengumpulkan beberapa fakta mengejutkan mengenai krisis air bersih di dunia. Kira-kira apa saja ya?

Diperkirakan Akan Ada 1.8 Miliar Orang yang Hidup Dalam Krisis Air Tahun 2025


Di mana pun kamu berada, pasti kamu membutuhkan air untuk bertahan hidup. Selain tubuh manusia yang membutuhkan 60 persen air, sumber daya lainnya juga membutuhkan air, misalnya saja lingkungan, pakaian, komputer, bahkan untuk membersihkan limbah pun menggunakan air.

Sayangnya, manusia menjadi salah satu makhluk hidup yang menggunakan air secara tidak efisien. Bayangkan saja, ketika kita mengonsumsi burger, makanan tersebut membutuhkan 2.400 liter, atau 630 galon air. Lalu banyak tanaman yang juga membutuhkan pasokan jumlah air yang cukup banyak, seperti kapas. 

Menurut PBB, hingga kini penggunaan air telah tumbuh lebih dari dua kali dikarenakan laju peningkatan populasi pada abad 20 ini. Diperkirakan tahun 2025 nanti akan ada 1.8 miliar masyarakat yang tinggal di daerah yang dilanda kelangkaan air. Dua pertiga populasi dunia diramalkan akan tertekan akibat kurangnya pasokan air bersih dikarenakan populasi, air pegunungan yang mulai berkurang, serta perubahan iklim.

Pasokan Air di Indonesia Semakin Menipis

Sebagai sumber daya alam yang terbatas, penting untuk kita mengetahui bahwa pasokan air bersih di Indonesia semakin berkurang. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi.

Pertama adalah meningkatnya pertumbuhan penduduk yang cukup pesat sehingga banyak lahan yang harusnya dijadikan sebagai daerah resapan menjadi berkurang. Banyak daerah aliran sungai (DAS) di beberapa tempat di Indonesia memikul beban berat. DAS yang semakin menurun serta meningkatnya kejadian tanah longsor, erosi dan sedimentasi, banjir, mengakibatkan kekeringan luar biasa.

Pertumbuhan area perkotaan di sisi lain juga memberikan dampak buruk. Contohnya saja Jakarta, dimana banyak dibangun area komersil dan gedung perkantoran khususnya di Jakarta Selatan seperti Mega Kuningan, Jend. Sudirman, dan TB Simatupang, yang banyak menyedot air tanah secara berlebihan.

Ketersediaan Sumber Daya Air Tidak Berbanding Lurus Dengan Percepatan pembangunan

Kita harus mengakui bahwa saat ini ketersediaan sumber daya air menyusut, namun berbanding terbalik dengan populasi masyarakat yang meningkat. 

Bahkan dalam buku panduan pengelolaan sumber daya air yang dikeluarkan USAID (United States Agency for International Development) disebutkan bahwa di laju pertambahan penduduk dan percepatan pembangunan di berbagai kawasan di Indonesia tidak sebanding lurus dengan ketersediaan sumber daya air, terutama air bersih.

Hal itu tak hanya menyebabkan persoalan berkurangnya pasokan air, namun juga distribusi air yang tak merata terhadap persebaran jumlah penduduk.

Di sisi lain, berbagai aktivitas manusia dan alam turut mencemari dan memperburuk kualitas sumber daya air, misalnya saja mencuci, membuang sampah sembarang, hingga limbah pabrik. Hal ini tentunya mengakibatkan manusia tak lagi dapat memanfaatkan air bersih. 

Infrastruktur Pemukiman Semakin Tinggi Membuat Potensi Air Tanah menyusut

DAS memiliki fungsi yang sangat strategis dalam menunjang sistem kehidupan baik masyarakat yang hidup di hulu maupun hilir. Itulah mengapa, pengelolaan DAS terpadu harus dilakukan secara menyeluruh dimulai dari kebijakan, rencana kegiatan, implementasi program, monitoring hingga evaluasi hasil kegiatan.

Sayangnya, beberapa tahun belakangan kawasan resapan air telah beralih peran dengan pembangunan infrastruktur. Semakin tingginya besar pemukiman masyarakat, maka semakin kecil pula sumber daya air dapat disimpan dan diserap. Akibatnya potensi air tanah menyusut dan mengurangi aliran mata air yang akan mengalir ke sungai saat musim kemarau.

Saat ini kita menghadapi tantangan di mana sebagai masyarakat kita tak hanya mencoba menemukan mata air bersih, melainkan melestarikan, mengelola, dan mendistribusikan air secara efektif. Untuk itu, dihimbau untuk selalu menggunakan air secara efisien dan yang paling penting jangan membuang limbah pada sumber mata air. 

Bagi pengembang area industri, komersil, dan perumahan sudah saatnya memperhatikan pengelolaan air supaya tidak semakin merusak lingkungan, salah satunya bisa dengan menerapkan impelemntasi water treatment sesuai dengan tata kelola yang tepat. Saat ini sudah banyak perusahaan waste water treatment Indonesia yang bisa dijadikan rekanan pengembang kawasan.

Ingat, Sumber Daya Air bukanlah sumber daya yang memiliki jumlah tak terbatas, jadi tidak ada salahnya untuk menjaga apa yang sudah alam berikan kepada kita.

Posting Komentar

0 Komentar